KASUS PEMBAKARAN, DIDUGA PENCULIK ANAK: TRAUMA PSIKOLOGIS YANG MENGINTAI

KASUS PEMBAKARAN, DIDUGA PENCULIK ANAK: TRAUMA PSIKOLOGIS YANG MENGINTAI

Telah terjadi kasus pembakaran orang hidup-hidup di Sorong, tepatnya di depan kompleks Kokoda, Kilometer 7 Jalan Basuki Rahmat, Papua Barat Daya.

Kejadian sekitar 06.30 WIT, anggota Polsek Sorong Timur mendapat telpon dari salah satu masyarakat dan juga ketua RT setempat, menyatakan ada orang yang diamankan. Namun, tidak menyebutkan siapa yang diamankan.

“Saat petugas datang, warga menceritakan kalau ada penculikan anak. Kemudian petugas mengamankan korban untuk dibawa ke Polsek Sorong Timur guna dimintai keterangan”, ungkap Kapolsek Timur saat ditemui di Rumah Sakit Sele Be Solu.

Lanjutnya, saat di tempat kejadian, massa yang ada di sekitar TKP sangat banyak, sementara anggota hanya berjumlah 4 orang.

 “Ketika anggota berusaha bersama korban sampai di depan jalan, tiba-tiba ada yang melempar bensin ke tubuh korban hingga mengenai anggota polsek juga” bebernya.

Terlihat pakaian yang digunakan perempuan tersebut terbakar, membakar wajah, tangan, dan bagian tubuh korban lainnya. Warga lainnya berusaha memadamkan api di tubuh perempuan tersebut dan pihak kepolisian yang berada di lokasi kemudian melarikan perempuan tersebut ke RSUD Sele Be Solu, namun nyawanya tidak tertolong.

Dari kasus di atas, dapat berdampak terhadap psikologis orang yang ada di sekitar kejadian tersebut, serta orang yang terlibat di dalamnya. Seperti masyarakat yang menyaksikan, anak yang terindikasi diculik, dan pelaku itu sendiri.

Trauma pada anak terjadi dikarenakan masa kanak-kanak adalah masa yang menyenangkan menurut pendapat sebagian besar masyarakat, dimana anak-anak belum memiliki beban yang harus dipikul dalam kehidupannya. Namun, anak-anak juga dapat mengalami stress, depresi, bahkan trauma karena sesuatu hal.

Dalam Diagnostic And Statistical Manual Of Mental Disorder (DSM.IV-TR) dinyatakan bahwa reaksi trauma mencakup salah satu atau dua dari berikut ini: (1) Seseorang yang mengalami, menyaksikan, atau berhadapan dengan kejadian buruk yang menyebabkan kematian, cedera serius atau mengancam fisik diri atau orang lain; (2) Reaksi individu terhadap ketakutan, rasa tidak ada harapan, horror (anak mungkin mengalami gangguan perilaku).

Gejala trauma anak dapat dilihat dari beberapa aspek seperti pada aspek fisik berupa demam, sulit makan, dan jantung berpacu lebih cepat. Pada aspek kognitif, sering mengalami mimpi buruk, pelupa, dan tidak bisa fokus. Adapun pada aspek afektif (emosi) berupa perasaan sering takut, merasa bersalah, panik, dan sedih. Pada aspek perilaku, sering menolak, malas bergaul, pendiam, pemarah, dan masih banyak lagi gejala lainnya. 

Rasa trauma ini juga dapat dirasakan oleh masyarakat yang menyaksikan kejadian secara langsung. Individu yang pernah menyaksikan atau mengalami langsung peristiwa kekerasan mengalami banyak efek negatif dari peristiwa tersebut. Jenis dan tingkat keterpaparan terhadap peristiwa traumatis dapat menjadi salah satu faktor kerentanan individu terhadap berkembangnya PTSD (Post Traumatic Stress Disorder).

Kemudian, dampak psikologis yang dirasakan pelaku yaitu adanya rasa frustasi. Hal ini terjadi umumnya ketika para pelaku melakukan kejahatan, mereka memang nampak baik- baik saja. Namun setelah melakukan kejahatan tersebut, ada rasa bersalah yang membuat mereka tampak lebih frustasi. Selain itu Paranoid atau rasa takut yang berlebihan tentunya menjadi salah satu dampak yang bisa terlihat sangat jelas. Paranoid ini muncul dikarenakan seseorang pelaku kriminalitas yang secara nyata melakukan tindakan kejahatan yang membuat dirinya terus dihantui oleh kejahatan yang diperbuatnya. [munawarah/nsw].

 

Referensi :

Hatta. (2015). Peran Orangtua dalam Proses Pemulihan Trauma Anak. Internasional Journal of Child and Gender Studies.

Paramitha, & Kusristanti. (2018). Resiliensi Trauma dan Gejala Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) pada Dewasa Muda yang Pernah Terpapar Kekerasan. Jurnal Psikogenesis Vol. 6, No. 2 (2018